Aku Tahu Itu

Monday, June 20, 2016


Malam itu langit terlihat cerah. Sang Ratu Malam nampak anggun dengan gaunnya yang berkilauan--sibuk menyapa dengan damai jiwa-jiwa kesepian. Burung hantu selalu terlihat senang saat-saat itu terjadi.

Sementara itu, di dalam kamar, nampak pemuda yang murung. Rupanya, kehadiran Ratu Malam yang datang bersama bintang-bintang, menyampaikan kabar gembira akan indahnya hari esok, tak mampu membuatnya riang.

Pemuda itu duduk di dipan, menatap langit malam yang berhias bintang-bintang lewat jendelanya. Tatapannya lurus ke depan, bergeming, memikirkan suatu hal yang selama ini mengusik tidur nyenyaknya.

"PAYAH! KAMU BENAR-BENAR PAYAH!" Gerutunya dalam hati. Tak ada orang lain di kamar kecuali pemuda itu yang sedang duduk asyik menopang dagu. Memang sudah menjadi kebiasaannya menyalahkan diri sendiri. Rasa bersalah kini tengah menguasainya--untuk sekian kalinya..

"Sebodoh itukah diriku hingga mengulang kesalahan yang sama??. Aku--tak ada beda diriku dengan mereka yang berbuat demikian. Sesuatu yang kubenci dan Kau benci. Tidak! ternyata aku tak benar-benar membencinya. Aku menyukainya dan benci melihat itu terjadi pada orang lain. Berpura-pura membenci sehingga terlihat demikian lebih tepatnya!"

Dia menghela napas. Sesekali menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan, lalu memejamkan mata--mencari keindahan yang tak ada di langit malam: Kedamaian. Pencerahan. Itulah yang dicari pemuda itu saat ini. Ia biarkan kerendahan hati mengambil alih pikirannya.

"Yaa, itulah cerminan diriku. Aku menginginkan itu ada pada diriku. Suatu fitrah yang sudah semestinya ada pada setiap orang. Namun, hal itu terkubur seiring berjalannya waktu. Semua yang menginginkannya kembali harus bersusah payah menggali dalam-dalam." Pemuda itu membuka kedua matanya. Pemandangan di depannya masih terlihat sama. Tapi tidak dengan pandangannya akan masalah yang dihadapinya.

"Aku yang menyukainya, bukanlah aku. Aku yang membencinya adalah diriku yang sesungguhnya. Yang seharusnya ada pada diriku, Yang seharusnya ada pada setiap insan di bumi."

"Aku tahu ini berat" pikirnya dalam hati. 
"Aku tahu Kau di sana menyaksikanku. Aku tahu Kau mendengarkanku. Aku memang tak bisa mendengar-Mu, tak pula dapat melihat-Mu."

Dia berhenti berucap sejenak. Nyamuk yang hinggap tak dihiraukan. Rupanya, ia telah tenggelam dalam lamunannya.

"Namun, entah bagaimana aku bisa melihat cara-Mu berkomunikasi. Bahasa itu. Yaa--dengan bahasa yang semua makhluk mengerti, siapapun itu yang mau meluangkan waktu untuk memahaminya. Sayang, tak semua menyadarinya."

Senyum simpul kini terlukis di wajahnya. Rasa resah seakan sirna hilang dihempas angin yang bebas berkelana. Keyakinannya menepis segala keraguan yang telah lama bersemayam di dalam hati. Ia semakin yakin akan segala keputusan yang telah dibuat.

"Aku hanya meminta satu hal dari-Mu. Kuatkan. Kuatkan. Kuatkanlah diriku. Kau mendukungku begitu pula seluruh semesta alam. Aku tahu itu."

You Might Also Like

0 comments

Ada pertanyaan ? Silakan pos komentar kamu..

Subscribe